Kamis, 08 November 2012

5 Pembalap Motor Indonesia Yang Mendunia

Jika kita melihat MotoGP, pastilah suatu waktu kita membayangkan bagaimana jika Bendera Merah Putih di podium? pasti sangat membanggakan. Indonesia bukan tidak punya pembalap berkualitas, hanya mungkin salah penjenjangan, kurang sedikit beruntung dan peran pemerintah yang minim.

1. Hendriansyah "Dewa Road Race"
Pembalap asal jogja ini merupakan adik dari Irwan Dian Ardiansyah. Prestasi yang dicapainya sungguh luar biasa di kancah nasional era underbone 2-tak, hingga diberikan julukan Dewa Road Race.

Karena prestasinya, tim dari negeri China sempat mengontrak Hendri. Adalah China Macau Zhongsen Racing Team yang berniat meminang Hendri pada tahun 2000-an. Hendri juga sempat mencicipi Asia Road Racing Championship dengan team ASH U Mild Motorsport.

Prestasi yang tak kunjung membaik di ARRC membuat Sang Dewa turun gunung alias kembali menggeber bebek. Dan kembalinya Sang Dewa bukan tanpa hasil. 

Prestasi mengkilapnya di tahun 2011 dengan tim privateer HRVRT BGM-HBM KYT Racing Team. Alasan Hendrimembuat tim privater adalah agar dia bebas memilih motor yang akan digunakan. 

Dan hasilnya pun, Hendriansyah berhasil menjadi juara di kelas IP 125 cc pada tahun 2011. Bukan hanya itu saja, di seri penutup pun di sirkuit Binuang Kalsel, sapu bersih  kualifikasi dilakukan Sang Dewa.




2. Irwan Dian Ardiansyah
Kakak dari Hendriansyah ini mulanya lebih fokus ke motocross. Dunia garuk tanah yang ditekuninya ini membuahkan 7 gelar nasional secara beruntun dari tahun 1996 - 2002.

Sedangkan untuk gelar Internasional, Dian memulai prestasinya di tahun 1995, menjadi Juara III Pemula 250 cc GFI Winter Series LACR California, Amerika Serikat, Peringkat VII 125 cc KTM Supercross Perth Australia (1996), Juara IV FIM Asia Supercross Medan (2001), hingga Peringkat IV FIM Asia Supercross (2002).

Pensiun dari motocross, bukan berarti Dian lepas  dari hingar bingar roda dua. Dian banting setang mengikuti jejak adiknya di road race. Prestasinya pun cukup bagus karena fisik yang ditempa di motorcross membuatnya tak perlu banyak waktu untuk adaptasi.

Bukan hanya itu saja, Dian pun sangat peduli dengan regenerasi di dunia garuk tanah dengan membangun akademi motocross. Setelah menyiapkan sirkuit, mekanik, hingga mes atlet, 2006 lalu IAMA (Irwan Ardiansyah Motocross Academy) pun didirikan.

Bentuk kepedulian Dian ini juga dibarengi rasa kekecewaan terhadap pemerintah yang  kurang peduli terhadap dunia otomotif. Padahal, menurut Dian, untuk membangun sirkuit motocross sangat murah. cukup menyediakan tanah yang luas, membentuk gundukan-gundukan untuk jumping, dan ada sumber air.

3. Aep Dadang Supriatna
Bermula dari dunia grasstrack ketika SMP, prestasinya sudah mulai nampak. Lulus SMA Ayah Aep membelikan Motor Trail seharga 15 juta-an untuk mendukung karir anaknya.

Prestasi luar biasa yang diterjang Aep Dadang menjadi juara nasional 4 kali beruntun dari 2003 - 2006 mengantarkannya untuk diberangkatkan PP IMI bertarung di negeri kanguru. Prestasinya pun cukup baik yaitu selalu menyodok 5 besar. Di level kejuaraan Asia juga langganan 3 besar.

Pengalaman dan prestasi seabrek yang dimiliki membuatnya masih dapat kesempatan untuk berabung di tim elit dan berduit saat ini. Pernah membela tim satelit MX Djagung Malang Husqvarna. Dan sekarang merapat di Tim Dumasari bersama pembalap dari New Zealand dan Australia.


Berkat hasil bermain motocross juga, Aep sanggup membangun sirkuit motocross sendiri seluas sekitar 1,5 hektar di daerah Panyirapan, Soreang dengan dua orang mekanik pemeliharaan. Lahan tersebut akan digunakan untuk mendidik crosser-crosser muda.



4. Doni Tata
http://static2.demotix.com/sites/default/files/imagecache/a_scale_large/1200-5/photos/1336855200-qatar-international-road-race-round-6-underway-with-nina-prinz-in-pole_1209935.jpgBocah dari isle of man alias sleman ini benar-benar seperti oase ditengah keringnya pembalap Indonesia yang berlaga di pentas dunia.

Ketertarikan Yamaha untuk mengorbitkan Doni di pentas dunia adalah saat melihat bakat Doni di OMR (One Make Race) Yamaha, dan Doni juga berhasil menjadi juara di Yamaha Asean Cup Race di usia bocah. Dari situlah rencana besar mulai disusun YMKI.

Dimulai dari menjadi wild card kelas 125 cc di Sepang, dua kali tampil doni tidak di overlap. Lalu langkah kedua, Doni juga menjadi satu - satunya pembalap Indonesia yang mengikuti Kejurdu MotoGP kelas 250 cc, padahal Yamaha tidak memiliki motor 2-tak 250 yang mumpuni untuk bertarung dengan Aprilia, Honda, maupun Gilera.


Prestasi yang tak kunjung memuaskan memutuskan Doni harus turun tahta di ajang WSS 600cc. Kejuaraan ini juga tak kalah ketat di daratan eropa dan Amerika. Doni benar-benar seperti ikan yang baru belajar berenang dikepung kumpulan ikan hiu.

 
Tuntutan sponsor yang sudah pasti sulit dipenuhi Doni untuk langsung berprestasi membuatnya harus kembali ke level Asia. Doni berlaga FARRC untuk kembali harus menunjukkan kelasnya. Namun toh Doni tetap mengukir prestasi.  12 Mei 2012 di ajang Losail Asia Road Racing Series (LARRS), Doni menjadi yang terbaik.

Banyak pihak yang menyayangkan langkah terburu-buru YMKI. Seharusnya level Doni ditingkatkan sedikit demi sedikit seperti mengikuti All Japan Road Race Championship atau Kejuaraan WSS Eropa seperti Casey Stoner. Karena mencetak pembalap world class, tidak segampang seperti memasak mi instan.


5. Rafid Topan Sucipto
Tanpa gembar-gembor dan koar-koar, Rafid Topan berangkat ke sirkuit Ricardo Tormo, Valencia-Spanyol di akhir musim MotoGP 2012. Penampilan perdana Topan di kelas Moto 2 untuk menggantikan Anthony West yang ketahuan menggunakan doping saat di seri Perancis. Topan akan mengawali debutnyabersama tim QMMF menggunakan sasis Suter.

Pada sesi latihan pertama, pembalap asal DKI Jakarta itu mengalami insiden terjatuh. Beruntung ia tidak mengalami cedera. Kendati demikian Topan tetap mampu tampil lebih baik dari rekan setimnya yaitu Elena Rosell. 


Start dari posisi 30 dari 33 peserta Moto 2 bukanlah awal yang buruk. Jika dilihat bahwa Sirkuit Ricardo Tormo merupakan sirkuit yang sangat technical, ditambah guyuran hujan. Namun demikian, dari keterangan Matteo Guirononi ketika berkomentar di Live MotoGP di Trans 7, pada saat free practice Topan berhasil menyodok posisi 13 sebelum akhirnya terjatuh.

Hujan yang mengguyur sirkuit benar-benar menyulitkan debut Topan . Meskipun tidak berhasil finish (karena overl lap 2 kali) saat Race Day, kita patut mendukung usaha yang dilakukannya. Karena motor 600 cc yang dipakai saat berlaga di FARRC, sangat berbeda dengan 600 cc spek Moto 2. Ditambah pengalaman yang minim, Topan seperti melawan monster dan alien.

Langkah bijak yang diambil manajemen Topan memang lebih baik. Karena dipastikan Topan akan mengikuti full series Moto 2 tahun 2013. Usia 18 tahun memang lebih pas di kelas Moto 2 daripada Moto 3 yang rata-rata dibawah 17 Tahun. Selamat bertanding Topan , bawa harum nama bangsa Indonesia !

Sumber:

1 komentar:

Anonim mengatakan...

gas pollllll....

Poskan Komentar

terima kasih sudah meninggalkan jejak...

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Menu Blog

Sponsored

Copyright © 2012. bromo-news7 - All Rights Reserved Region Bromo by Bromo-News7